Cerpen

Anak Seorang Perempuan

Anak Seorang Perempuan

Anak Seorang Perempuan

Oleh: Fr. Oktovianus Olong, SVD

Hilde. Gadis yang sudah dua kali mengalami menstruasi itu memiliki satu kebiasaan aneh. Ia senang memetik bunga mawar yang ada di depan pastoral. Ia selalu membawa kembang itu ke kamarnya. Melihat bunga itu lama-lama. Sesekali menciumnya. Dan bila hendak tidur, ia akan meletakan bunga itu di atas dadanya. Bahkan dalam setiap kepulan asap doanya, ia selalu menyelipkan harapan agar Tuhan berkenan menghadirkan bunga mawar itu dalam mimpinya.

Ibunya yang terus mengamati kebiasaan anaknya yang aneh itu sangat terganggu. Kadang ia bahkan marah-marah pada sifat anaknya yang agak diluar nalar itu.

“Jangan petik dan bawa bunga itu lagi ke sini.”

“Kan indah mekarnya”, Hilde membela diri.

Hilde kadang bingung dengan sikap bundanya. Ia selalu membersihkan sendiri sisa bunga itu jika telah jadi sampah. Hanna, ibunya, memang memiliki alasan. Alasan itu lebih dari sekedar mengotori rumah. Juga bahwa memetik bunga mawar dari tangkainya sama dengan mempercepat proses layunya.

                                                                   ♥ ♥ ♥

Hari minggu identik dengan hari untuk bersantai. Banyak orang memilih untuk menghabiskannya di pantai sambil menikmati jus buah atau sejenis rekreasi lainnya. Pastor Degar memilih untuk tetap berada di patoran. Ia ingin merayakan libur dengan cara yang sangat sederhana. Tidur. Tugas pastoral cukup menguras banyak tenaganya. Apalagi paroki yang digembalainya memiliki latar geografis yang cukup memprihatinkan dengan kondisi jalan yang umumnya berstatus jalan provinsi.

Baru memeluk bantal sekitar tiga belas menit, pintu pastoral terketuk. Ia yang kecapean memang sengaja untuk tidak mau membukakan pintu. Tapi pintu terus diketuk. Namanya terus melambung di udara. Ada alasan yang membuat matanya tak mau lagi tertutup. Telinganya menangkap suara bagai kicauan burung. Suara itu mendamaikan hatinya.

Pintu dibuka. Dihadapannya berdiri seorang wanita muda. Beberapa detik baru jatuh. Wanita itu erat memeluknya. Sang Pastor sedikit aneh dengan tingkah wanita itu.

“Ada apa ini???” wajah sang pastor keheranan.

“Bahumu adalah laut. Padanya sejuta sungai air mata ini tertampung.” Wanita itu menjawab spontan.

“Tapi laut bisa saja mendatangkan badai.”

“Aku tak cemas soal itu. Aku selalu yakin. Ketika terjun dalam laut itu, ada ikan kecil yang tersenyum indah.”

“Sungguh sial nasibmu burung yang malang. Sayap-sayap cintamu pasti telah patah.” Sang pastor mencoba menemukan alasan

Wanita itu menagis sejadi-jadinya. Tarikan napasnya sangat terdengar jelas. Wanita itu belum juga melepaskan Sang Pastor. Walau nada suaranya jelas memperlihatkan kecemasan pada sang gadis, Pastor Degar cukup menikmati adegan itu. Dipeluk oleh seorang wanita muda adalah pengalaman baru baginya. Imajinasi liar mulai memenuhi batok sang pastor. Amukan nafsu menenggelamkannya.

“Tepat katamu pastor. Sayap cintaku patah. Aku ditelan sepi. Jiwaku kerontang oleh panasnya mulut lelaki yang dulu datang kepadaku dengan senyum paling segar ditangannya.”

“Perkara cinta memang sulit. Ia bagai amukan topan. Hanya orang yang sungguh siap yang berhasil melaluinya”, tegas Pastor Degar. “Tapi saya yakin, engkau belum terlalu telat untuk datang padaku. Mungkin engkau sering mendengar, perdamaian sering dirayakan di atas altar suci. Dalam kasusmu, perdamaian pun bisa aku rayakan. Di atas tubuhmulah ritus itu akan kulaksanakan.”

“Apa?” Hanna sedikit kaget.

Hanna tentu tidak bisa buat apa-apa. Pastor itu begitu kuat menggenggamnya. Kini ia serupa layang-layang. Membiarkan angin membawanya di angkasa. Masalah tak terselasaikan. Muncul problem baru. Tak hanya sayap cintanya yang patah kini. Selangkangannya juga diacak-acak.

                                                                                    ♥  ♥  ♥

Bila malam tiba hati Hanna hacur lebur. Ia tak kuat menatap wajah Hilde yang berbaring manis dengan bunga mawar di atas dada. Hati kecilnya selalu berkata “Hilde yang manis. Engkau tak tahu, juga takan kuberi tahu. Mawar itu sengaja kutanam di depan pastoral dulu. Mawar adalah simbol pemilik taman. Orang selalu menatapnya indah. Ada alasan yang tersembunyi di sudut jiwaku.”

Itulah alasan mengapa Hanna tidak mau melihat Hilde bangga dengan kebiasaannya. Hatinya hancur. Juga mengingatkan dia akan peristiwa kelam masa lalu. Tapi ini adalah rahasia. Hanna tak mau air itu meluap. Jika sampai air itu mendidih, ia bahkan membiarkan air itu meluap lalu menyakiti hatinya sendiri. Ketika ditanya Hilde,

“Bu, sebenarnya aku ini anak siapa???

“Anak seorang perempuan,” Begitulah ia menjawab.

*Cerpen ini pernah dipublikasikan di rakatntt.com. Kini dimuat kembali dengan beberapa perubahan.

Pergi Lalu Rindu

Pergi Lalu Rindu

 “Aku menulis ini saat aku jatuh cinta. Saat aku tidak bisa melupakan masa lalu. Yang aku tahu, masa akan selalu melahirkan dua hal. kenangan dan pelajaran,” ucapku dengan jemari yang mulai menari di atas keyboard hitam yang siap diberi sentuhan hangat.

***

Bali, 20 Juni 2012

Hari Pertama, Jatuh Cinta

Dari jarak yang lumayan jauh, lelaki itu terus menatap seorang gadis yang sibuk membaca sebuah novel. Kadang senyum terpahat dibibirnya melihat jemari gadis itu membuka tiap lembar halaman. Tidak hanya itu, ia bahkan tertawa kecil saat melihat gadis itu mengerutu kesal saat membaca.

Matanya seakan tidak ingin berpindah arah. Gadis dengan rambut gelombang yang digerai itu, membuat satu kata terkait dipikirannya. Tertarik.

“Hei, gue boleh tanya nggak?” ucapnya pada seorang mahasiswa yang sedang berjalan melintasi taman.

“Yah. Mau tanya apa?”

“Lo kenal cewe yang di sana?” tanyanya sambil menunjuk ke arah gadis itu.

“Ohh, Revalina?” iyah kenal. Kenapa?

“Nggak. Cuman tanya. Thanks.” Ucapnya lalu kembali menatap gadis bernama Revalina itu dengan senyuman hangat. Okey, jadi namanya Revalina.

***

Hari Kedua, Berani Mendekatinya

Revalina berjalan menyusuri rak buku yang menjulang tinggi. Ia terus merapal-rapal judul buku yang ingin dibacanya. Jemari membantunya menemukan apa yang ia mau. Sampai akhirnya langkahnya terhenti oleh sosok lelaki tampan yang berada dicelah rak buku.

“Hay, Nama kamu Revalina yah?” Revalina dikejutkan dengan suara itu.

“Shuuutt...di Perpus tidak boleh ribut!” Disambarnya sebuah buku fiksi lalu Revanila berbalik meninggalkan lelaki itu.

Tanpa sepengetahuannya ternyata lelaki itu mengikutinya dari belakang sampai di meja tempat ia membaca.

“Saya Angga. Salam kenal,” ucap lelaki lelaki itu dengan suara sedikit berbisik. Revalina hanya menatapnya dengan judes. Tidak ingin menatap terlalu berlebihan. Menganggap suara itu hanya angin lalu.

“Mau kenal sama dia nggak?” tanyanya sambil menunjuk ke arah lelaki berjabul tebal membuat kening Reva mengerut. Lalu menjawab, “Nggak.”

“Kalau sama yang itu?”

“Nggak juga ihh!”

“Kalau sama saya? Siapa tahu dari kenalan jadi suka.” Reva menoleh karena merasa ada yang aneh lalu memukul Angga dengan buku di tangannya.

“Udah dibilangin tidak boleh ribut,” kesal Reva lalu menghindar dari hadapan Angga secepatnya. Kedua pipi Reva sudah terlihat sangat merah. Perpaduan antara malu dan marah.

“Aneh-aneh!”

***

Hari Ketiga, Membantunya

Fajar tiba mendapati titik embun yang membasahi helaian daun. Membiarkan matahari menjalankan tugasnya.

Revalina memasuki bus universitas. Melirik sambil mencari tempat kosong yang ternyata sudah penuh diisi mahasiswa/i Universitas Gajah Mada. Ia kesal karena terpaksa berdiri.

“Mau duduk di tempatku tuan putri?” suara serak yang khas terdengar menyapa Reva. Ia menole dan mendapati lelaki dengan rupa yang sama. Angga.

“Nggak usah!” tolaknya. Angga hanya tersenyum dan berjalan ke arah belakang bus. Memilih berdiri di bagian belakang dan menyisahkan tempatnya untuk gadis yang disukainya.

Duduklah. Batin Angga sambil mengintip ke arah bangkunya yang belum ditempati.

Revalina menoleh ke belakang. Mencari Angga yang tiba-tiba sudah hilang. Matanya memandang ke bangku milik lelaki itu yang telah kosong. Reva menarik senyum simpul kemudian duduk di kursi itu. Terima kasih.

Angga melirik ke depan. Di matanya purnama bersinar.

***

Hari Keempat, Mengajaknya Berdua?

Tidak ada yang lebih indah dari cinta pada pandangan pertama. Bayangkan saja. Kamu menyukai orang yang sama sekali tidak kamu ketahui kepribadiannya. Namun, sudah menyukainya dengan sekilas melihatnya. Mulai dari cara dia tersenyum sampai gerak-geriknya yang lucu. Mungkin nasibmu sama dengan Angga.

Mau pulang bareng?Angga dengan senyum yang tak akan lupa ia tampilkan tiap kali harus berhadapan dengan gadis pujaannya. Revelina.

Pertanyaan itu hanya dibalas dengan sikap cuek. Pandangan Revalina terus memandang ke depan. Tidak peduli dengan yang sedang menyapa.

Di atap bumi, langit mulai mendung. Gadis itu kelihatan panik. Angga terus memandangnya. Memperhatikan setiap tingkah yang dilakukan sang gadis.

“Sebentar lagi hujan. Yakin tidak mau menerima tawaran saya?” tanya Angga memastikan.

“Udah sana. Kamu pergi saja.”

Angga kembali tersenyum. Sudah kesekian kali tawarannya selalu di tolak sang gadis. Angga mengambil payung biru muda dari tasnya. Membuka payung itu lalu meletakannya.

“Jangan lupa pakai ini.” Ia kemudian menghilang dari tempat itu.

Revalina menatap teduh payung itu. Lelaki yang baik.

***

Hari Kelima, Belum Menyerah

Revalina menuruni tangga dengan buru-buru. Tanpa sengaja menabrak seorang mahasiswi yang sedang asyik dengan minuman cokelat. Baju yang berwarna putih kini terdapat noda di bagian lengan.

“Iyahh nggak apa-apa. Saya yang salah kok.” Bajunya kotor kini, tapi Revalina menyadari bahwa itu kekeliruannya. Ia terus berjalan dengan wajah memelas. Hari ini memang buruk baginya. Ia kembali menabrak seorang cowok yang sedang berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Mungkin karena terlambat?

“Sorry...ehhh kamu? Ketemu lagi kita.” Wajah lelaki itu kelihatan sangat bahagia.

Revalina hanya mengangkat bahunya berusaha tidak peduli. Ia muak dengan lelaki itu. Cowok itu agak aneh baginya.

Manik mata Angga terlihat menatap lengan kemeja Reva yang terkena noda. Sontak ia mengambil tangan berwarna hijau tua untuk menghilangkan noda basah itu.

“Sapu tangan?” tanyanya lalu melirik kemeja Revelina. Karena tak ada respons, Angga mengambil tangan Reva lalu menaruh sapu tangan itu di telapak tangannya. “Pakai buat lap.”

Revalina menjentikan jemarinya yang masih memegang sapu tangan Angga, melemparnya dengan pelan tepat di wajah lelaki itu. “Nggak butuh.”

“Saya tidak pernah menyerah!” teriak Angga melihat Reva segera menjauh. Cinta baginya kadang serupa pertanyaan yang membingungkan tapi mengasikkan.

***

Pergi

Seperti biasa, gadis ‘kutu buku’ itu duduk di salah satu bangku taman. Ditangannya sebuah novel dengan cover berwarna putih. Bibirnya komat-kamit. Dahinya terus mengerut. Aktivitas seperti ini yang Angga suka. Matanya terus memandang dari jauh. Beban skripsi yang menumpuk lenyap dari pikirannya.

“Cie yang dilihatin,” ucap seorang gadis saat menangkap Angga yang sedang memperhatikan Revalina.

Revalina mengerutkan keningnya saat mendengar teguran dari mahasiswi yang dikenalnya dengan nama Dinda. Lantas, ia langsung menoleh ke belakang mendapati Angga yang sedang tersenyum memandangnya.

“Huhh, dia lagi!”

“Kelihatan lagi kasmaran sama kamu dehh. hehehe” Dinda menambahkan lagi dengan cengiran lebar lalu pergi dengan membawa buku-buku ditangannya.

Revalina menoleh ke belakang. Kali ini Angga menyatukan jemarinya berbentuk hati. Reva mendelikan bahu lalu melangkah mendekati Angga.

“Mending kamu pergi.”

“Kenapa”

“Kehadiran kamu itu menggangu hidupku dan saya tidak suka,” tegasnya memuntahkan amarah.

***

Rindu Yang Disembunyikan

Akhir-akhir ini, Revalina merasa seperti ada yang kurang. Aktivitasnya seperti tidak lengkap. Hari-harinya terasa sangat sepi.

Ia berjalan memasuki perpustakaan. Kembali pada rutinitas yang selalu ia lakukan. Mencari buku kesukaan. Memainkan jemari pada sampul-sampul buku. Menatap cover buku dengan design terkini. Namun, kali ini merasa ada yang kurang. Biasanya ada yang mengganggunya dari celah-celah buku. Tapi ia tidak ada kini. Lamunannya kembali pada saat-saat kesal dulu. Kok aku memikirkannya. Aneh.

Revalina mengambil beberapa buku yang ia perlukan. Memberi kartu pinjaman lalu keluar dari perpustakaan. Ia berdiri di bawah halte, menunggu bus universitas. Lelaki yang sering menganggunya itu pun tidak ada. Ia hanya menggelengkan kepala. Mengapa ia terus hadir dalam lamunanku?

Bus universitas datang. Seperti biasa, tidak ada bangku yang kosong. Ia melemparkan pandangan ke arah bangku yang biasa digunakan lelaki itu. Bukan dia di sana. Kemana dia?

Ia menatap datar ke jendela bus. Meraba kaca yang dibasahi embun. Sesuatu keanehan muncul dalam dirinya. Seperti ada yang kurang. Ia selalu merasa sunyi. Ia rindu kehadiran lelaki itu.

Apakah ia sudah lelah menunggu? Atau muak dengan sikapnya yang selalu acuh?

Revalina terus menatap penuh harap. Dari kaca jendela, bangunan-bangunan bisu. Awan terbang dalam sunyi. Kendaraan kota ramai. Tak ada yang peduli padanya.

“Mencari saya?”

Seketika ia menjadi kaku. Suara itu...

“Angga.”

Bus berhenti.

“Kemana kamu selama ini?”

“Mau jalan sama saya?”

“Kemana?” Revalina tersenyum dengan malu-malu.

“Menikmati dunia....Berkenalan dan berkelana.”

“Okeyy.”

Selesai

 

Oleh: Petrasia Febiana Rata. Siswi SMK Katolik Syuradikara Ende. Kelas X UPW

 

Maaf

Maaf

Oleh: Petrasia Febiana Rata (Siswi SMK Swasta Katolik Syuradikara. Kelas X UPW)

Hari masih gelap. Kabut malam belum sepenuhnya beranjak. Diantara lipatan selimut, aku masih terbaring seolah tak rela kulitku dijamah hawa yang dingin. Aku sangat bosan. Malas untuk pergi ke sekolah.  Sekolahku dipenuhi dengan komplotan tukang bully. Aku selalu menjadi sasaran empuk ketajaman lidah mereka. Aku kadang berpikir, mengapa aku terlahir dari keluarga miskin seperti ini?

“Ananda, bangun sayang. Kamu harus ke sekolah.” Suara ibu menggema di telingaku. Aku menjadi geram. Apakah dia tidak tahu kalau aku sangat menyesal karena terlahir dengan ekonomi serba sulit seperti ini? Ckk! Tapi aku terpaksa bagun dari tempat tidurku dari rotan dan dialasi dengan kasur tipis. Kenyataan ini juga yang membuat tidur dan mimpiku tidak terlalu baik.

“Ayo sarapan! Nasi goreng kesukaan kamu telah ibu buatkan.” Aku menatap jijik ke arah nasi goreng itu. “Nasi goreng apaan ini? Tidak sesuai dengan seleraku.” Ucapku sambil melempar piring berisi nasi goreng murahan itu.

Aku menatap malas ke arah ibuku yang sudah menangis. Menurutku dia sangat lebay. Aku tidak ingin meladeni ibuku yang berlaku seperti anak kecil. Aku berjalan dengan seragam putih abu yang lusuh. “Mending ke sekolah,” pikirku.

“Ibu harap kamu selalu menjadi anak yang baik. Semua ini berkat untuk kita. Harus tahu bersyukur nak.” Aku mempercepat langkahku biar suara itu menghilang. Sebenarnya aku malas ke sekolah. Tapi aku tidak memiliki kegiatan lain.

“Woyy anak cacingan!” Aku menghentikan langkahku. Dadaku bergemuruh. Marah, sedih dan aneka perasaan melebur menjadi satu.  Geng tukang bully itu telah menyemburkan bisanya. Pagiku yang redup dibuatnya bertambah gelap. Aku ingin berteriak, tapi suaraku terlalu lemah. Tanganku pun tak terlalu kuat untuk sekedar melampiaskan emosi. Kepalaku hanya bisa menunduk dan menyepakati nasib.

“Angkat kepalamu!” Rinai, si menor itu menyembur lagi. Dengan kasar ia menarik rambutku dan membawaku ke toilet siswi. Aku merintih kesakitan. Byurrrrrrr...aku terkejut. Rinai menyiramku dengan air dari bak toilet. Aku menangis sejadinya. Aku membenci keadaan ini. Aku membenci semuanya. Seandainya aku memiliki kehidupan yang serba ada, tidak mungkin aku ada di posisi ini sekarang.

Aku putuskan untuk kembali ke rumah. Aku tidak ingin menjadi bahan olokan. Apalagi seragamku yang tipis sudah terkena air. Aku malu. Kalau saja aku punya ayah, aku tidak mungkin hidup miskin bersama ibu.

Aku membanting pintu rumah. Itu membuat ibu terkejut. Tapi aku tidak peduli. Yang aku rasakan saat ini hanyalah api kemarahan yang tak kunjung padam.

“Nak, ada apa?” Mata ibu tertuju pada seragamku yang sudah basah.

“Kenapa? Ibu masih bertanya? Justru aku yang bertanya. Mengapa aku terlahir dari rahim seorang miskin seperti ibu?” Aku benar-benar kelepasan. Aku meremas rambutku. Ibu hanya diam. Namun tangannya terbuka untuk merangkulku. Aku dipeluknya. Aku tidak tahu mengapa ia memelukku setelah bahasa sepedis itu kuarahkan padanya. Sontak aku pun memeluknya. Hatiku seolah mengeluarkan air mata.

“Ingat kata ibu, nak. Ini adalah anugerah dari Tuhan. Miskin dan kaya itu hanya takaran angka. Kita semua punya peluang untuk itu. Yang terpenting bukan meratapi nasib. Tapi menatapi nasib.” Suaranya yang berlahan-lahan menghilang. Lalu hening. Aku masih memeluknya. Aku merasa tubuh ibu melemah dan bertopang pada dadaku. “Ibu, ibu kenapa?” Tanyaku khawatir.

“Bangun bu. Ibuuuu.” Aku terus menggoyangkan badannya. Tapi ia masih tidak peduli. Tubuhnya semakin lemas dan aku pun semakin panik. Pertanda apa ini. Aku baru saja baikan dengannya. Semesta dan surga, jangan membawanya pergi. Dengan tenaga yang tersisa, aku menggendong tubuhnya yang ternyata sangat ringan. “Pasti ibu jarang makan,” pikirku merasa bersalah. Aku mecari kendaraan umum dan melarikan ibu secepatnya ke rumah sakit.

“Dokter, tolong selamatkan ibu saya!”

“Sebentar nona. Nona harus mengurus administrasi terlebih dahulu. Saya tidak bisa melakukannya sebelum administrasinya terpenuhi.”

Dunia seakan berhenti berputar. Tangan dan kakiku semakin lemas. Jawaban dokter itu membuatku ingin mencekiknya. Begitu kejamkah dunia padaku? Mengapa semua orang menolak dan tidak membutuhkan aku?

“Nona. Ibu nona sudah tidak bernapas.” Si tukang angkot membuyarkan lamunan dan kebingunganku.

Dadaku terasa semakin sesak. Hatiku yang berwarna merah muda kini menjadi hitam. Surgaku lenyap. Semesta terlalu jahat padaku. Aku kehilangan sosok yang dekat dan selalu ada padaku. Suara yang lembut menyapa aku kini telah bisu.

Sekarang aku sadar. Penyesalan selalu datang setelah orang yang kita sayangi pergi untuk selamanya. Kini, di atas gundukan tanah aku hanya mampu menyusun kembali semua kisah yang telah kami lalui bersama. Aku telah menyia-nyiakan masa laluku.

“Maafkan aku Ibu. Aku lupa caranya bersyukur. Aku buta meski memiliki mata. Harusnya aku bersyukur karena memiliki sosok yang baik seperti ibu. Semesta memanggilmu justru ketika aku membutuhkanmu. Maafkan Ananda Ibu. Sampaikan juga salam dan permohonan maafku untuk ayah,” ucapku sambil menatap hampa ke makam ibu.

Litani Kehilangan

Litani Kehilangan

Cerpen Eto Kwuta

(Catatan Redaksi Oleh Hengky Ola Sura)

Di setiap hari-hari ini, ada seorang yang muncul dan lenyap seperti merayap dalam gelap yang pekat dan tiba-tiba aku merasa malam menjadi lebih pekat. Tak kusangka kalau seorang itu lebih tahu dan memahami aku yang sudah dibentuknya sejak dari janin kecil di dalam rahim ibu, tapi ia membiarkan aku merana, memerangi malam yang sudah menjadi lebih pekat ini.

Di sebuah balkon, aku berdiri melihat ke luar. Selimut malam masih pekat membentang jauh ke depan. Adapun sebuah kota di depan bola mataku dengan lampu-lampu yang biasanya mengeluarkan cahaya terang kerlap-kerlip di malam hari, tapi rupanya kota itu sedang tidur atau mati. Itu kota karam yang mulai tercium pengapnya, kala seorang itu hanya muncul dan lenyap seperti merayap dalam gelap malam.

 

“Kamu sendirian di balkon. Menunggu siapa?” tanya seorang pria yang bekerja di surat kabar nasional.

“Sedang tunggu seseorang yang sukanya muncul dan lenyap,” kataku.

 “Yang seorang itu rupanya tak mau bertemu denganmu, siapa ya?”

“Seperti yang kau tahu, ia sedang ke kota,” jawabku seperlunya. Si wartawan terkekeh. Ia merasa cocok bicara denganku, katanya.

“Oh ya, dia pasti sukanya hidup dan mati, ‘kan?”

“Mana mungkin kutahu,” jawabku lagi. Kami pun bercakap-cakap tentang seorang yang sedang menuju kota. Dia yang suka jalan-jalan ke luar. Pergi dan pulang, hilang dan muncul.

“Ada apa denganmu? Kamu tampak tak ingin jika dia datang?”

“Siapa?”

“Tuhan, ‘kan?” jawabnya tidak meleset. Kami masih berdiri di atas balkon sebuah gereja yang terletak di bukit. Percakapan kecil baru saja dimulai. Aku memang merasa akhir-akhir ini sebaiknya melakukan tindakan yang bodoh. Bunuh diri pun bisa. Sangat sederhana sekali tindakan itu. Tapi, apa gunanya hidup kalau setiap hari bau tubuhnya tercium, menarik aku ke masa lalu, menggali kuburanku sendiri, lalu mencampakkan aku ke dasarnya. Begitukah yang namanya kehilangan?

Dulu, yang merasa kehilangan itu hanyalah orang yang pulang dari medan perang. Ketika pecah Perang Dunia II, ribuan relawan terjun langsung untuk mati dan hidup lagi. Sekarang, garis tanganku ditakdirkan supaya Maria yang tak lagi mencintaiku pun perlahan membunuh aku dengan caranya. Cara diam, tapi kejam. Ia diam dan aku terus memburunya dalam seorang yang selalu saja ke luar kota.

“Kapan baru ada jawaban? Kamu yang membunuh aku, bukan dia. Bukan dia yang membunuh aku, ‘kan?” kuteriak dengan keras dari balkon. Suaraku membentur dinding-dinding malam yang semakin pengap. Kota karam masih jauh di sana. Ah, mestinya kulupakan kesedihan ini, juga doa-doa yang tak juga sunyi seperti Tuhan. Apalagi dingin merasuk di puncak bukit seolah kami berada di belahan dunia yang jauh ke kutub itu.

Bro, baiknya kita bercerita tentang vampire…., saya lebih suka menulis berita tentang kematian yang berdarah-darah, atau makhluk apa pun yang lebih ganjil, sebut saja kerajaan vampire melawan kerajaan serigala,” ungkap si wartawan.

“Apa maummu?”

“Cuma menunggu ada kejadian luar biasa, lalu saya bakal meliputnya. 5W1H akan mendapat tempat dalam berita baru. Saya mungkin menunggumu bunuh diri, hehehehe,” katanya ceplas-ceplos. Maklum, wartawan biasanya rajin dan cerdik dalam mengobrak-abrik kata dan membuat berita. Aku mendengarnya bicara seputar vampire dan makhluk ganjil. Ia sungguh menyukai cerita itu. Malahan, dirinya ingin menjadi keduanya, kalau Tuhan mau, katanya begitu. Dengan seluruh ekspresi dan pembawaan seorang wartawan, ia mengambil gambar diriku. Ia menginginkan aku cukup menjadi seorang model, sumber inspirasi dan tokoh utama dalam ceritanya tentang vampire.

“Itu artinya, aku mau jadi antagonisnya,” kataku.

“Jangan, kamu perankan yang protagonis,” bujuk si wartawan dengan ramah.

“Tidak. Aku mau jadi vampire saja. Biar pencipta vampire itu yang protagonis,” kataku sambil melihat kemungkinan menang melawan si pencipta vampire seperti aku ini.

“Sob, kamu membenci-Nya? Gara-gara perempuan yang pergi dari hidupmu, lalu semuanya tampak seperti Tuhan lebih suka hilang bersama sang perempuan itu. Saya terharu. Kita monoteis, bro, kita samawi, dari langit itu, kan?” ia mempertanyakan keyakinanku di malam hari yang sudah sangat pekat sekali.

“Bro, aku akan menjadi vampire yang mati said di tengah kota Jakarta dalam minggu ini. Siap diri, liput aku dari awal sampai akhir, biar Amerika, Rusia, dan China mengetahui, aku laki-laki theis tapi sekarang atheis,” kataku dengan emosi yang semakin tak lagi terkontrol. Amarahku meledak seperti ketika aku meledakkan bom di pulau Dewata, dan aku mau mengulang lagi. Tempat yang pas untuk melancarkan aksiku ialah kompleks perumahan pak Ahok. Biar orang seperti dia juga mengalami kehilangan seperti aku. Pak Ahok kehilangan keluarga dan aku sudah kehilangan pacar.

“Tidak apa-apa bro, saya siap melayani kamu; hanya saja saya tak cukup yakin orang seperti kamu, kita sama-sama Samawi, tapi kok kamu tega begitu sih! Kehilangan yang kamu rasakan itu tidak berbentuk lagi,” kata si wartawan.

Lalu, aku menegaskan bahwa yang tidak berbentuk itu sebenarnya kosong, tidak punya isi, tapi aku punya kehilangan. Kemarin, di kampung Melayu sudah terbukti. Aku juga kehilangan saudaraku yang diledak-ledakan seperti binatang. Lalu, ke mana Tuhan? Ia terus saja muncul dan lenyap seperti ular, seperti ular, Ia terus merayap di balkon ini. Bahkan, merayap di dalam nadiku.

Kita bagaikan orang dungu yang menunggu waktu menghentikan kita. Sama-sama punya Pancasila, tapi masih saja bilang rubah saja Pancasila! Dan, karena ketegaran hati orang-orang yang kehilangan seperti aku, maka aku mau menggantikan sila pertama dengan ke-tuan-an yang maha esa. Itu lebih pas dan tepat sasar.

**

Kami masih bergelut dengan merencanakan sebuah perang. Perang melawan kehilangan sekaligus kehilangan dalam berperang. Aku akan memberi wartawan sebuah kehidupan yang bahagia dan aku juga pasti bahagia kerana memilih mati said. Si wartawan merasa bangga karena aku bisa memberinya berita yang aktual, membuatnya terkenal, nanti bila sudah kuledak-ledakan kota Jakarta.

Dia, si wartawan tampak tersenyum. Malam yang pengap oleh bau kematian terus mengepul di sekitar kami. Aku pun mencium sebentuk bau yang tidak asing. Bau yang sering membuatku terlena dan sebisa mungkin mengalah pada keadaan sekarang ini. Bau itu persis seperti harumnya parfum milik Maria, seorang yang tiba-tiba saja hilang dan muncul seperti bau badan Tuhan yang dipercayai oleh aku yang Samawi. Bau bajunya, keteknya, ya, bau tubuhnya yang kencang oleh karena ia sudah membusuk di dalam kepalaku.

Di kepalaku, malam itu, kami mengumpulkan batu-batu untuk menggali kuburan baru bagi semua yang belum pernah merasakan kecemasan dan kehilangan yang dahsyat. Di atas balkon yang dingin nan sesak, aku tahu Maria duduk tertawa di relung malam itu, di rumahnya yang sunyi tanpa aku. Ia berharap aku segera terbang ke Jakarta dan membuat sejarah terulang lagi. Sejarah yang sebaiknya, jangan sekali-kali kami lupakan, karena kami lebih bahagia membuat Tuhan tertawa dan menangis oleh karena perang.*

Lamahora-Lembata, Minggu, 04 Juni 2017

Teruntuk yang hilang dan yang hidup.

Terinspirasi dari puisi terbaik Indonesia karya Sunlie Thomas Alexander berjudul “Litani Kecemasan”.

 

Kehilangan yang Asing

Catatan Redaksi Oleh Hengky Ola Sura-Redaksi Seni Budaya Voxntt.com

Litani Kehilangan karya Eto Kwuta kali ini buth pembacaan yang ketat. Jika dibaca mengalir saja maka yang ada dan hidup dalam benak pembaca adalah semacam rasa asing. Apa sih maksud cerpen ini? Percakapan dengan wartawan akhirnya membawa tokoh aku dalam cerpen ini lebih pada rasa frustrasi kehilangan seorang perempuan bernama Maria. Tokoh wartawan dalam cerpen Eto bisa jadi merujuk pada wartawan investigasi yang menulis kisah reportasenya dengan sangat detail dan panjang. Sosok si Aku dan wartawan dalam cerpen ini adalah tipikal orang-orang aneh yang model diskusi mereka saja boleh dibilang berkelas untuk kalangan mereka saja. Diskusi tentang paham ketuhanan juga tentang ateis jadi tema pokok untuk membahasakan kehilangan seorang pujaan hati yang dipunyai tokoh Aku. Jika saja Eto lebih menukik dengan memfokuskan cerita kehilangan perempuan pujaan hati lalu mengeksplorasi rasa kehilangan dengan rencana tindakan anarkis atau semacam sebuah tragedi kehilangan lebih besar dengan mengorbankan banyak orang maka pasti lebih dramatis. Atau bisa jadi mati sahid yang Eto ingin ciptakan mungkin lebih dahsyat bagi pembacaan semua yang menikmati cerpennya.

Sayangnya Eto justru lebih fokus pada semacam cerita seputar bom Bali, tentang Ahok yang hemat saya kurang terlalu menggigit dalam relung juga imaginasi pembaca. Litani Kehilangan seperti yang dikisahkan Eto kali ini kurang sreg tinggal dalam hati dan pikiran pembaca karena secara heuristik dan hermeuneutik kurang memberi makna juga kesan yang mendalam.

Pada halnya dari judul cerpen saja saya kira pembaca musti senantiasa dihantar pada rasa dug-dag akan kehilangan macam apa yang hendak dibawa Eto kepada pembaca. Cerpen macam ini jika plot, alur, penokohan juga setingnya didalami dengan membiarkan cerita bercerita maka kehilangan yang dimiliki si Aku bisa jadi milik semua yang membaca. Jika tidak maka yang terjadi adalah pembaca bisa jadi paham tentang kehilangan itu tapi bisa juga bingung dan merasa ini kehilangan si Aku yang asing.***

Sumber: https://voxntt.com/2017/08/27/litani-kehilangan/?fb_comment_id=1187101778056734_1188892821210963, Diakses, Sabtu, 20 April 2019.

Senja

Senja

Nama saya Pram, usia, pekerjaan, status, nanti dulu. Mungkin saya menjadi salah satu  anak paling malang di kota kecil ini.

Peta Lokasi

Social Media