Mading

SMK Swasta Katolik Syuradikara

KELIMUTU LAKE

KELIMUTU LAKE

  • AROUND THE REST ROOM:

Ladies and gentlement,  

The name of Kelimutu is actually consisting of 2 words namely KELI and MUTU. Keli means Mountain and Mutu means Boiling. So the Kelimutu indicates the power of mount in a big explosion.

Ladies and gentlement, The Kelimutu Lake is located on the top of mount Kelimutu, this mountain once erupted in 1830. Based on the type of eruption, it released very huge larvae, gas, and volkanic. This mountain is famous for its three color lakes namely black, red and green. But the unique thing is that these color of water in each crater are always changeable and unpredictable.   

Ladies and gentlement,

This lake was discovered by a Dutch researcher named Van Suftelen in 1915,and was designated as a Nasional Nature Conservation Area on February 26 1992. These three lakes have their respective names, called Tiwu Ata Polo, Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai and Tiwu Ata Bupu, where according to history of local people who lives around this area.....these 3 craters describe the name of each crater. 

Ladies and gentlement,

The history begins at the top of Mount Kelimutu, which is called Buaria, the name for a dense forest, which is always cloudy.

Once upon a time, where Konderatu lived with its people, there were two highly respected figures, namely Ata Polo, who was evil, and Ata Mbupu who was kind. One day, Ata Mbupu was visited by a pair of orphans who begged for protection. Ata Mbupu accomodated them by not leaving the field for fear of being eaten by Ata Polo. But Ata Polo already known about the presence of the children, during a visit to the Ata Mbupu’sfield. Ata Mbupu tried to protect the children, by asking Ata Polo to come back after the children were teenagers, because their meat will very delicious when they were teenagers. Ata Polo agreed and said to come again then. As time went on they became teenagers called Ko’o Fai for the young girls, and Nuwa Muri for the young boy.  They are looking for a hiding place , to avoid Ata Polo. When they managed to escape and found a cave to take refuge, Ata Polo was so angry with Ata Mbupu, because he felt be trayed. This wrath then turned into a big fight and it caused earthquakes and big fires. But ladies and gentlement, Since Ata Mbupu was too old and weak, he could not handled Ata Polo, so he decided to go into the ground of the earth. This made Ata Polo wrath.

Not long after, Ata Polo found the hiding place of the 2 teenagers he was looking for. Shortly Ata  Polo had to be swallowed up by the earth because of his uncontrolled mad and these two teenagers were aslo becoming victims. The cave were Ko’o Fai and  Nuwa Muri hided, collapsed  in the quake and buried them. A few moments after the incident, where Ata Bupu’s reaches the bowels of the earth, a blue lake appeared, at the Ata Polo’s place a red lake, and the hiding place of the two teenagers formed a green lake.

So ladies and gentlement, the 3 lakes are called according to history, namely Tiwu Ata Polo is believed to be a lake for bad people gather when dying. Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai believed that this place is provided for the spirit of young people died, and Tiwu Ata Bupu is believed to be a place for the accumulation of died parents. Until now, ladies and gentlement, the people believed that whoever dies his spirit will live in these 3 lakes. The local people believe that when the colour of water is changed, means the spirit of the dead people visit them and they must give offerings to them like what the people always do every year ‘Pati Ka ceremony’. Is there any question, ladies and gentlement? .......No?

Alright, ladies and gentlement, please follow me!!

 

  • AROUND THE SHOPPING AREA:

Ladies and gentlement,

There are many choises of light drinks and  traditional food offred by the local people along this area. You may have your traditional cup of hot coffee or tea while sitting around freely after seeing the beauty of the 3 lakes of Kelimutu. It costs very cheap. The people also provide souvenirs to bring home like sarong, Ragi and Lesu. And the price is very low. You will have 10 minutes to be here before back to the bus for our next site to Murundao water fall. So ladies and gentlement, let’s continue our trip to ‘TUGU’ to see the 3 lakes of Kelimutu and the scenery around the mount Kelimutu.

  • AT 1ST STAIR TO ‘TUGU’:

Ladies and gentlement,

Before going up to ‘tugu’, I would like to inform you the rules and ethiques to be concerned as follows:

  1. Put the trash in the trash can.
  2. Don’t feed monkeys around the area.
  3. Don’t turn the music on loudly.
  4. Don’t stay over night here.

By: Margareta Dwiputri Bedha. SMK Katolik Syuradikara Ende Schoolgirl. Class XI UPW

MONOLOG RAHIM

MONOLOG RAHIM

Oleh: Eto Kwuta

OPENING

(Di stage, disiapkan lenterna atau lampu kuning, digantung di satu tiang, belum dinyalakan, gelap, seperti awal mula bumi dijadikan. Ada tempat tidur, kasur, dan bantal disiapkan, selimut, sebuah meja dan kursi, cerek berisi kopi dan gelas, ditambah 2 bungkus lilin, dan korek api. Instrumen musik kampung mulai berbunyi dan tangisan bayi, serigala, dan bunyi burung-burung malam).

(Resty dirias seperti sosok ibu yang tua, tapi cantik, lalu Resty masuk sambil mengikuti hentakan musik, lalu duduk pada kursi yang disiapkan. Kemudian, Resty menyalakan lampu lenterna atau bola lampu kuning yang disiapkan, kemudian diam sejenak, menuju tempat tidur, berbaring, sedikit mengeluh dan merintih kesakitan, lalu berdiri tertatih, melihat-lihat ke penonton yang ada).

MONOLOG

Ini malam saya hanya ditemani sepi. Heeee, kamu tahu apa itu sepi? (diam sejenak) Sepi itu sakit, penuh rasa sakit, setelah sekian lama saya menunggu (agak gelisah dan cemas). Saya menunggu anak-anak saya datang melawat sepiku. Setiap kalinya rumah saya menetaskan telur di sini, wajah-wajah kamu berseri-seri. Lalu, saya lihat kamu pergi dan pulang, jalan dan berlari, sampai di rumah lalu singgah sebentar saja, duduk sedikit, bangun lagi, lalu melangkah pergi sejauh mimpi Anda membawa kepala, mata, dan hatimu pergi. Ah, saya kesepian, ‘nak! (sedang) Saya kesepian, ‘nak! (sedikit kuat) Saya benar-benar kesepian (lebih kuat dan suara agak susah)!

Hari yang berlari, bulan yang kemari, tahun yang gugur, saya menunggu kamu datang membawa kenang-kenangan. Di sini, ada banyak kunang-kunang dan ada banyak kenang-kenangan. Kunang-kunang itu terbang sambil bercahaya kerlap-kerlip, lalu mati di dalam detik jam di dinding, dan kenang-kenangan itu tinggal sambil mekar selalu di taman hatimu.

Bayangkan…..bayangkanlah….(pelan), ketika pertama kali rumah saya masih muda, berumur satu tahun, dua tahun, tiga tahu, empat tahun, lalu bertahun-tahun lamanya, sampai kutenun tahun ini, heiiiiii, anak! Saya benar-benar mengeram kamu sambil berdoa: “Semoga anak-anak saya menjadi pahlawan! Semoga anak-anak saya menjadi pahlawan utama!” Apakah doa saya dijawab???

Saya! Saya! Saya, telah melewati musim demi musim yang payah, cuaca yang pecah di setiap detik dan detak jantungku, saya masih sangat kuat! Ketika badai mendidih secangkir rindu, aku minum kopi, sambil menyulam kasih sayang dalam doa.

Pergilah ke mana kamu kuutus, anak-anakku! Tapi, jangan lupa pulang membawa kunang-kunang dan kenang-kenangan. Datanglah, hibur ibu pakai lagu, hibur ibu pakai senyummu, hibur ibu pakai keringatmu, hibur ibu pakai bajumu, hibur ibu pakai celanamu, hibur ibu pakai rokmu, hibur ibu pakai lipstikmu, hibur ibu pakai jubahmu yang megah seputih kapas di taman surgawi, hiburlah ibu pakai puisi, ‘nak! Adakah telah kamu berikan buat saya, hai, anak-anakku? Apa yang kamu berikan??? (Diam sejenak, melotot ke arah penonton, mendesah, lalu menangis) Terlalu banyak. Tapi……, belum apa-apa!

Lihat perut ibu, (tunjuk pada perut!) gendut terus sepanjang lorong-lorong waktu! Ibu terus dihamili dengan sabda-sabda tua, ilmu-ilmu sejarah dan matematika yang susah tapi cantik, ilmu sosiologi yang cinta kenyataan, dan pelajaran-pelajaran dari guru-guru yang pernah terukir di dalam kepalaku, aduhhhhhhhh!!!!

Selama hayat masih dikandung badan, ibu tak mau hanya menciptakan dongeng dan mitos di rumah ini. Dari dulu sampai sekarang, ibu mengeram luka, duka, cuka, dan dengan hati terbuka juga pintu yang selalu membuka dirinya: ya……, supaya kamu jadi orang! (sekali lagi dengan suara tegas) supaya kamu jadi orang!!!!

Dengar, ibu mau menyanyi. Sedikit saja, biar hatimu tak galau, ya? Kasih ibu, kepada kamu, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagaikan sang Surya menyinari dunia…. (nyanyi 2 kali, pada ali kedua, sebut kasih ayah.

Itu lagu tua, nak (tertawaaaaaaa sedikit panjang dan natural)! Heee, saya ibumu serentak ayah…., dan lagu tadi dariku buat kamu! Jika kamu merasa galau, menangislah! Karena saya selalu menangis sepanjang hari, di setiap malam yang sepi, sambil kuperam RAHIM-ku untuk membetulkan tangan, kaki, kepala, mata, otak, hati, dan seluruh tubuhmu jadi manusia. Dan sekarang, kamu benar-benar menjadi MANUSIA.

Dan, betapa aku tersentak kaget melihatmu telah membetulkan lagi tubuhmu, dan tinggal dalam kenang-kenangan sambil terbang membawa cahaya kerlap-kerlip ke penjuru dunia. Ada yang pergi dahulu, lalu ada yang masih tinggal dalam kenang-kenangan ibu.

Wah, sekarang kamu datang! Kamu datang! Kamu datang melihat…., aaaa…ku, Aku, saya, aku, saya, aku, saya, saya, KAMI, KAMI SEBAGAI RUMAHMU. RUMAH-RAHIM yang tidak menciptakan dongeng tua, tapi kenangan-kenangan yang tidak mandul di dalam hidupmu! Aku RAHIM yang tidak mandul! Hahahahahah, aku ibumu (Tertawa sambil menangis bahagia...)!

Betapa aku telah melahirkan engkau dan mengutusmu pergi seperti anak domba ke tengah serigala? Beginikah yang namanya ibu dan ayah? Mengutus engkau pergi seperti anak domba ke tengah serigala?? (Diam sejenak, jeda sedikit).

Dengar jeritan hantu, bunyi gesekan kayu di tengah hutan nenek moyangmu, dan seruling pecah di bibir malam ini, betepa serigala selalu menangisi kesepian ibu.  Sepi ibu ini tak punya obat penyembuh apa-apa. Sepi ibu ini adalah doa yang keluar dari sunyi yang paling dalam. Doa yang menetas untuk PERMATA yang terus bersinar di bawah kaki gunung meja.

PERMATA……… ibu tak pernah lupa! (Resty bangun ambil lilin dan menyalakan lilin di tempat yang sudah disiapkan). Kamu semua adalah PERMATA kepunyaan ibu. Kamu telah bersinar selalu di ujung-ujung pulau, ke tubir langit Nusantara, menembus buana, melanglang laut yang bergelombang duka berujung suka…….

Anak-anakku, ibu masih di sini. Ibu memeluk RAHIM yang tak berbatas ruang dan waktu. RAHIM yang suburrrrrr, RAHIM YANG menyemburkan selaksa peristiwa hidup dan mati, RAHIM yang jatuh dan bangun, datang dan pergi, ingat dan lupa, cinta dan benci, benar dan salah, miskin dan kaya, suka dan duka, panas dan hujan, tangis dan tawa, semuanya jadi pelangi paling indah di mata ibu.

Ahhhhk, RAHIM ini masih subur, anak-anakku! Akan tetap subur dan tak akan pernah terkubur oleh musim-musim yang sedang patah. Maka, jangan kamu lupa permata ibu yang telah hilang!!! (Tunjuk ke arah penonton) Jangan lupa!!! Jangan pernah lupa anak-anak!!! Jangan!!!! Jangan lupa!!! (berbicara sedih sambil air mata).

(Resty merebah ke bawah, duduk di tengah lilin yang bernyala. Sambil berdoa dalam sunyi, mengekspresikan rindu, susah, sedih, senang, tangis, benci, sakit, dll.)

PERRRRRR-MATAAAAAA, ibu punya PERMATA. Tak ada mata-mata, tapi perrrr-mataaa, PERMATA, MATA, MATA, MATA RAHIM yang hidup, lalu mati, dan tinggal dalam kepala dan hati ibu. Ibu ingin kamu jangan hanya bermain mata di rumah ini, tapi menjadi PER-MATA yang bersinar dan bercahaya di malam gelap.

Supaya RAHIM ibu tetap SUBUR. Hahahhahahaheeee,,,,, hahahahhahhaha…, usia ibu hampir seabad, tetapi ibu masih muda (Tertawa lagi, tetapi ada nuanasa galau di wajah). Kamu, kamu anak-anakku dilarang tertawa, cukup ibu saja, ya??? Cukup ibu saja, ya?? (Tertawa lagi.., lalu diam sejenak sambil jalan-jalan, lalu menatap ke arah penonton).

Oh ya, ibu memang bahagia, karena ulang tahun, ulang tanggal, ulang bulan, dan ulang hari………, mungkin juga ulang jam…., ibu masih merasa galau. Detik dan detak-detak jantung ibu berdebar, RAHIM ibu terbuka lagi, Sakit ibu menganga kembali, dan RINDU ibu telah menjadi sakramen dalam segenap jiwa ragamu.

65 TAHUN. USIA IBU 65 TAHUN, ADUHHHHHHHHHH!!!! SUDAH SEMAKIN TUA…, RENTA, TAPI RAHIM IBU TETAP SUBUR. INGAT! RAHIM IBU TETAP SUBUR. SUBURNYA ADA DALAM NADIMU, MENGALIR DALAM DARAHMU.

OH, KAMULAH PERMATA! PERMATA YANG MASIH HIDUP DAN BERBUAH BANYAK! TETAPI, ADA YANG TELAH PERGI DIKUNYA BADAI ZAMAN DAN DITELAN WAKTU, TETAPI MASIH ABADI DI RANJANG SUNYI DAN SEPINYA IBU.

IBU INGIN BERNYANYI. MENYELAMI LAGU DAN DOA, MENYALAKAN KERLAP-KERLIP LILIN DALAM BARA API CINTA DAN RINDU YANG TAK PERNAH HABIS. IBU SAYANG KAMU SEMUA. RAHIM INI MASIH SUBUR, ANAK-ANAKKU! AKAN TETAP SUBURRRR!!! JANGAN PERNAH LUPA! PERGI KE UJUNG DUNIA, BERLARI KE BATASNYA, JANGAN PERNAH LUPA, RAHIMKU INI TAK PERNAH MEMINTA BALAS JASA.

IBU MAU, KITA MENYALAKAN LILIN-LILIN KITA SAMBIL BERSYUKUR DAN BERDOA, SUPAYA JANGAN ADA KATA-MASING-MASING, JANGAN ADA KATA SEPARUH, JANGAN ADA SETENGAH SAJA, KARENA IBU SELALU MENCINTAIMU SETENGAH MATI, SETENGAH MATI MENCINTAIMU SAMPAI RAHIM IBU TERKOYAK-KOYAK, TETAPI TAK AKAN ADA RASA TAKUT. DI SINI, TAK ADA DONGENG YANG KAMU DAPATKAN, TETAPI MUTIARA-MUTIARA CINTA, YANG LAHIR DARI RAHIM IBU YANG SELALU MEMANGGILMU UNTUK PULANG. PULANG KE RUMAH. PULANG KE RAHIM.

RAHIM……, RAHIM….., RAHIM IBU……

CLOSSING

(Lagu Ave Maria diputar perlahan, lalu Resty kembali berjalan mengambil lagi lilin, lalu menyalakan satu demi satu pada tempat yang sudah disiapkan, kemudian turun ke depan para penonton SAMBL MENATAP MEREKA DAN BERBISIK kata “RAHIM” dan “PERMATA”, sambil berjalan di tengah mereka dengan lilin menyala, sambil menangis natural. Pada saat ini, lagu PERMATA CINTA diputar, sambil Resty ikut menyanyi atau membuat lippsing, sampai lagu selesai, dan berakhirlah monolog ini).

 SEKIAN DAN TERIMA KASIH

 *Monolog ini dibawakan oleh Siswi SMAK Syuradikara dalam Puncak Acara Reuni Akbar IAS Nusantara dan Dies Natalis SMAK dan SMK Swasta Katolik Syuradikara.

 

Mengapa Harus Masuk Sekolah Kejuruan?

Mengapa Harus Masuk Sekolah Kejuruan?

Dalam era globalisasi yang semakin maju, kita bergerak dalam manajemen pariwisata yang harus sebanding dengan tuntutan zaman. Globalisasi dunia, menurut ilmuwan sosial dipicu oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pada dekade ini berlangsung sangat cepat. Jalaludin Rahmat dalam bukunya Islam Aktual bahkan menyebut fase ini sebagai era Revolusi teknologi infomasi dan komunikasi. Tentu, fase ini menjadi seperti mesin perambah yang menjalar cepat ke dalam ruang-ruang kehidupan manusia. Dalam kepariwisataan, logika kapitalis dijalankan, akses informasi pun dicerna dengan cepat, ruang dan waktu diisi dengan rutinitas serentak aktivitas yang selalu menggerakan spiritualitas manusia itu sendiri.

Dalam kapasitas pendidikan, pergesaran nilai pun dirasakan semakin kencang. Nilai-nilai humanisme klasik diserang oleh humanisme global yang semakin membengkak. Dinamika ini harus disikapi dengan keberpihakan dunia pendidikan, khususnya sekolah kejuruan. Kepariwisataan, misalnya, menajdi satu ukuran yang diambil lebih awal, mengingat globalisasi yang pesat. Untuk itu, sebuah pertanyaan yang biasa, "Mengapa harus masuk sekolah kejuruan?"

SMK Pariwisata Syuradikara dan Kata 'Mengapa'

SMK Swasta Katolik Syuradikara Ende dalam perjalanan 6 tahun ini telah membawa anak-anak ke dalam satu dunia pariwisata yang berkarakter. Mengapa? Pertanyaan ini tentu menghasilkan jawaban yang berbeda-beda. Dalam kaca masyarakat awam, SMK adalah Sekolah Masuk Kerja. Artinya, mereka memahami bahwa ketika anak-anak masuk SMK, pasti anak-anak langsung mendapatkan pekerjaan yang layak berdasarkan kejuruan di sekolah bersangkutan. Misalnya, SMK Swasta Katolik Syuradikara dengan Kealihan Pariwisata, tentu membuka ruang bagi anak-anak untuk menjadi guide atau bisa mengelilingi dunia, jika mereka menguasai secara baik Bahasa Inggris, Jepang, maupun bahasa asing lainnya.

Pariwisata secara etimologis berasal dari Bahasa Sansekerta yang terdiri dari dua kata, pari dan wisata. Pari berarti penuh, seluruh, semua; dan wisata berarti perjalanan. Dengan demikian, pariwisata berari perjalanan penuh, seluruh, menyeluruh, dan merangkum semua. Prof Salab Wahab menegaskan pariwisata adalah salah satu industri baru yang mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktif lainnya (Shofwan Hanief, S.Kom Dkk, 2018:1).

 

Celvyn Laysana, Forin Diego, Sales Lengo, dan Berto dalam Wawancara via Whatsapp

Di SMK Pariwisata Syuradikara, Mr. Sirilus selaku Ketua Program Studi menuturkan bahwa impilasi etis dari Pariwisata adalah menerjemahkan juga Perhotelan. Dalam proses, perhotelan menjadi hal penting dari pariwisata dan sebaliknya. Kedua jurusan ini menjadi benang merah yang bisa menangkis kerinduan anak-anak. Maka, SMK Syuradikara tidak hanya menyiapkan satu bagian saja, tetapi beberapa opini lain yang bisa membungkus keinginan anak-anak pada waktunya.

SMK Syuradikara sejauh ini telah menelurkan alumni yang kreatif dan mandiri sesuai dengan bidang yang dipilih setelah tamat. Ada yang sudah menjadi pramugari, tentara, guide profesional di Bali, dan lain sebagainya. Dinamika hasil ini memberikan sebuah argumentasi riil bahwa anak-anak itu berhasil karena mereka memilih sekolah yang tepat.

Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa "Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, dan jadikan setiap orang sebagai guru." Pernyataan ini menjadikan SMK Syuradikara sebagai salah satu dari sekolah baru dan masih muda, tetapi dinyatakan berhasil karena prestasi anak-anak dalam akademik, psiko emosional, dan prestasi di luar sekolah setelah tamat dari SMK Swasta Katolik Syuradikara.

Sekolah yang Mencintai Seni  

Awal Pebruari 2018, SMK Swasta Katolik Syuradikara, Ende, menggelar aneka lomba menyongsong Valentine’s Day yang melibatkan para siswa, siswi, dan semua guru-guru. Aneka lomba ini terdiri dari baca dan tulis puisi, lomba kerapian dan keapikan kelas, menulis karya ilmiah, dan melukis atau mewarnai pot-pot bunga supaya tampak indah. Dari berbagai proses dalam kegiatan lomba menyongsong Hari Kasih Sayang yang dirayakan setiap tanggal 14 Pebruari, SMK Syuradikara merumuskan semangat baru di tahun baru sebagai “Misi untuk mengubah mimpi, dari tiada menjadi ada.”

Tahun 2018 adalah waktu untuk mengubah mimpi dengan menaruh perhatian pada aspek seni dan budaya, yaitu “Seni sebagai cita-cita.” Tema ini ditegaskan oleh kepala sekolah SMK Syuradikara, Br. Pius Ledo, SVD.

“Sekolah yang hidup, mandiri, humanis, dan peka merupakan cita-cita bersama yang ingin kita wujudkan dalam setiap rancangan program di sekolah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan mesti bertindak untuk memanusiakan manusia. Dengan kata lain, sekolah memanusiakan anak didik menjadi pribadi-pribadi handal di masa depan, maka fungsi guru atau pendidik ialah memotivasi anak didik setiap hari dengan nasihat-nasihat dan juga tindakan konkrit yang menyentuh pribadi anak didik,” kata Pak Sirilus Keiri.

“Seni sebagai cita-cita” sudah menjadi tema pokok untuk membongkar cita-rasa semua pihak, baik itu anak didik, guru-guru dan pegawai, masyarakat, bahkan negara yang mengatur dunia pendidikan itu sendiri. Dalam media kebanggan Indonesia seperti KOMPAS, disediakan kolom khusus mengenai seni dan budaya, maka pelbagai artikel kritik sastra, kritik musik, kritik seni rupa terus ditulis oleh seniman-seniman Indonesia; atau kita tidak perlu berlari jauh lantaran media-media lokal seperti Pos Kupang dan Flores Pos pun turtut membuka ruang imajinasi yang menyentuh kita pada setiap hari Minggu dan hari Selasa. Dengan melihat pada ungkapan “Seni sebagai cita-cita”, maka SMK Swasta Katolik Syuradikara sedang melihat jauh ke depan, yaitu mengubah mimpi anak-anak didik menjadi seniman-seniman handal yang siap dipakai oleh masyarakat dan negara. Ini berarti sekolah selalu bermimpi setiap hari dalam dua semester yang terus berjalan.

Pada tahun ini (2018), seni harus selalu hidup atau seni harus selalu “berkicau” kapan dan di mana saja. Artinya, semua pihak terkait dalam lembaga pendidikan mengatur anak-anak didik untuk menyuarakan seni melalui kerja tangan (opus manuale). Kerja tangan tidak hanya melatih anak didik untuk bekerja semata, memaksa kegiatan fisik saja, melainkan membentuk mentalitas dalam diri anak didik supaya memiliki inisiatif dan kreativitas yang bisa mengubah masa depan mereka menjadi lebih cerah. Pada tataran ini, sekolah tidak hanya menuntut anak didik belajar untuk mendapatkan nilai di atas kertas, melainkan mengubah individu-individu menjadi orang atau manusia seutuhnya di dalam sekolah maupun di luar jam sekolah (humanisasi). Dengan kata lain, anak didik siap bekerja atau siap pakai ketika sudah selesai menamatkan pendidikan di Perguruan Tinggi.

Dua Persoalan Dasar

Bruder Kepala SMK Syuradikara dalam input edukatif pada pertemuan bersama beberapa guru dan anak didik saat mendiskusikan program-program awal semester dua terkait planning kegiatan beberapa bulan ke depan mengedepankan dua persoalan dasar.

Pertama, sekolah bukan hanya menjadi lingkungan tempat bermain dan belajar semata, tetapi menjadi locus berekspresi untuk mengembangkan bakat atau talenta yang dimiliki masing-masing orang. Menurut kepala sekolah, sekolah harus “membongkar hal-hal yang terpendam” untuk diejawantakan kepada sesama di dalam sekolah maupun di luar sekolah.

“Belajar saja tidak cukup. Belajar harus diikuti dengan konkretisasi tindakan. Dalam hal ini, bakat atau talenta dibongkar keluar dari dalam diri supaya dinikmati oleh setiap orang,” kata Br. Pius Ledo, SVD.

Kedua, sekolah yang kurang mencintai seni karena seni dilihat sebagai hal yang tidak disukai atau tidak diminati oleh siswa maupun siswi. Adanya ketakutan untuk jatuh cinta dengan dunia seni seperti seni musik, seni sastra, seni drama, dan seni rupa. Banyak anak didik yang tidak tahu membaca not-not angka karena mengandalkan daya ingat atau menghafal dalam latihan-latihan lagu untuk kegiatan koor pada saat misa maupun kegiatan kunjungan ke kampung-kampung. Mereka hanya mengikuti kegiatan sekolah karena tuntutan, tetapi tidak memperhatikan nilai guna dari kegiatan tersebut. Dengan kata lain, siswa dan siswi hanya menguasai teori tanpa praktik.

Untuk mengatasi persoalan ini, maka sekolah mesti membuka mata dan melihat secara jelih situasi riil dari setiap anak-anak didik. Hal ini penting serentak menjadi cermin edukatif, bahwa guru atau pendidik tidak berjalan sendiri atau hanya mengajarkan teori di depan kelas, tetapi guru memiliki fungsi kontrol yang penuh sambil menggali dan menemukan karekter-karakter anak didiknya.

Seperti hal yang pernah disinggung mendiang Romo Mangun bahwa banyak sekolah-sekolah menengah pada umumnya hanya mengarahkan anak didik pada perguruan tinggi, sementara pendidikan menegah kejuruan kurang berkembang, baik dari segi jumlah sekolah, pengembangan program dan terlebih minat siswa yang masuk ke sekolah kejuruan tampak begitu minim. Hal ini terjadi karena sekolah pada dasarnya hanya mengajarkan teori tanpa praktik, padahal teori dan praktik merupakan dua pokok penting yang saling berhubungan satu sama lain.

Oleh karena itu, misi sekolah untuk “Mengubah mimpi, dari tiada menjadi ada”, menurut penulis merupakan awal yang bagus. Artinya, sekolah memberi peluang kepada anak-anak didik dan guru serta pegawai untuk bekerja sama. Tujuannya ialah mewujudkan mimpi yang dicita-citakan secara bersama-sama. Aneka lomba seperti baca dan tulis puisi, mewarnai pot-pot bunga, menulis karya ilmiah, dan lain-lain merupakan ukuran yang dipakai untuk mengukur sejauh mana anak didik di SMK Swasta katolik Syuradikara akan belajar dan berjuang menjadi pribadi-pribadi yang seni. Mimpi ini tidak lain merupakan cita-cita, maka seni dan budaya adalah cita-cita semua sekolah di mana saja.

Fungsi Kontrol

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia, Ibu Maria regina Rei, S.Pd menilai bahwa aktivitas seni merupakan kunci masa depan anak-anak didik karena di suatu saat nanti, kita akan melihat anak-anak kita menjadi manusia atau seniman-seniman handal, misalnya penyair, pelukis, penulis hebat, pencinta budaya, guru, dan lain-lain. Untuk itu, menurut beliau, sekolah harus menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang kelancaran dari semua proses tersebut. Tentu saja, fungsi kontrol sekolah yang paling pertama terletak pada kepala sekolah, namun tidak terlepas dari guru-guru atau pendidik.

Sekolah adalah Rahim Para Seniman

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, sekolah bukan hanya lingkungan bermain semata, melainkan sebuah locus untuk mengubah hal yang belum ada, menjadi ada. SMK Syuradikara sedang berjuang menunjukkan kepada dunia, bahwa sekolah adalah ibu kedua yang menyiapkan rahimnya untuk melahirkan dan membesarkan pribadi anak-anak didik ke seluruh pelosok negeri ini.

“Sekolah adalah rahim seni karena di dalam lembaga pendidikan terdapat aktivitas seni itu sendiri, seperti seni mengajar, seni bekerja, seni berbicara, seni menghargai dan menghormati, seni mendisiplinkan diri, dan lain-lain, maka kita yang menamakan diri sebagai bagian dari sebuah sekolah sebaiknya menjadi rahim untuk melahirkan dan membesarkan nama sekolah supaya harum di level lokal, nasional, maupun internasional,” kata Bruder Pius.

Br. Pius Ledo, SVD mengatakan bahwa seni bukan hanya untuk seni semata, melainkan seni untuk hidup dan panggilan semua pribadi-pribadi. Dengan menjadi seniman berarti kita menjalankan misi untuk merasa memiliki atau semakin mencintai sekolah sebagai rumah milik sendiri. Rumah yang penuh dengan kenyamanan, keindahan dari dalam terpancar ke luar. Dengan kata lain, sekolah yang mencintai seni merupakan sekolah yang akan selalu menghidupkan seni untuk semua orang.

Diterbitkan di Flores Pos

 

Peta Lokasi

Social Media