Profil Kepala Sekolah

SMK Swasta Katolik Syuradikara

Image

Br. Pius Ledo, SVD, S.Pd

Kepala Sekolah SMK Syuradikara
Br. Pius Ledo, SVD, S.Pd lahir di Flores Timur (data KTP) tepatnya di desa Roho, Kecamatan Buyasuri, Lewoleba, Kabupaten Lembata. Ia lahir dari satu keluarga petani sederhana: Polikarpus Peu Leuobi (ayah) dan Maria Magdalena Bunga Leuweheq (ibu). Keluarga ini dikarunia 2 orang putri dan 5 orang putra. Dari kelima orang putra 3 orang memilih hidup berkeluarga sedangkan dua lainnya lebih suka memilih menjadi pelayan di Kebun Anggur Tuhan.
Anak bungsu menjadi seorang imam, biarawan misionaris sementara Pius (anak keenam) setelah melewati proses panjang, akhirnya memilih menjadi seorang Bruder. Keduanya memilih serikat atau kongregasi yang sama yakni Serikat Sabda Allah atau yang kita kenal dengan nama SVD.

Berkiprah di bidang pendidikan punya kisah panjang dan unik. Kalau ditelusuri lebih jauh, menjadi seorang guru bukanlah pilihan dan cita-cita perdananya. Alasan mendasar yakni ketika menyaksikan sendiri kesibukan dan rutinitas harian seorang saudaranya yang memiliki profesi sebagai seorang guru.

Dalam satu kesempatan dia pernah guyon dan menawarkan kepadanya dengan mengatakan “Pius setelah tamat SMP, bisa lanjut ke SPG untuk menjadi seorang guru ya?” Secara spontan dia menjawab tidak tanpa alasan yang jelas.

Dia tidak suka menjadi seorang guru. “Entah mau menjadi apa nanti hanya satu pilihan yang tersimpan rapih di benakku yakni menjadi seorang biara.” demikitan tuturnya ketika ditemuinya di ruang kerjanya di SMK Swasta Katolik Syuradikara.

Proses formasi dasar dan lanjut telah dilewati dan berhasil sampai pada akhirnya dia bisa memutuskan untuk bergabung menjadi anggota Serikat Sabda Allah secara penuh dan tetap pada tahun 1996 lewat perayaan Ekaristi pengikraran Kaul Kejal. Menjadi seorang Bruder Dia awalnya berkarya di bidang Perkantoran maka tempat misi pertama yakni di kantor sekretariat Provinsi SVD Ende untuk menangani administrasi perkantoran di tempat misi tersebut. Setelah lima tahun, dia diminta untuk beralih tempat kerja yakni menjadi seorang Formator bagi para calon Bruder di rumah Pendidikan Bruder, Biara St. Konradus (BBK). Menjawabi tawaran itu butuh sebuah refleksi panjang, namun pada akhirnya dia terima hanya karena sebuah nialai ketaatan terhadap pimpinan serikat.

Setelah menyatakan ya, Br. Pius mulai berjuang menekuni tugas baru. Awalnya berat tetapi lama kelamaan terasa menjadi ringan. Menjadi seorang formator dia tidak hanya bekerja bersama para calon bruder, tetapi juga belajar bersama mereka. Ketika berinteraksi dengan para calon di ruang kelas di sana terjadi proses belajar mengajar sebagaimana terjadi di dunia pendidikan formal. Saat itu, dia mulai belajar mencintai profesi sebagai seorang guru. Uniknya terletak di sini. Awalnya tidak suka ternyata ketika terlibat langsung malah sangat mencintai profesi sebagai seorang guru. Mulai saat itu, Dia berbalik bukan lagi tidak suka tetapi sangat mencintai Profesi Guru.

Beberapa tahun di rumah formasi, Dia lalu beralih tempat karya dan mulai berkiprah di bidang pendidikan formal sebagai guru di SMA Swasta Katolik Syuradikara sebagai guru bahasa Inggris sampai sekarang. Sambil mengajar di SMA Syuradikara, pada tahun 2015  dipercayakan oleh Yayasan Persekolahan Santo Paulus Ende an Pimpinan Provinsi SVD Ende sebagai Kepala SMK Swasta Katolik Syuradikara, sebuah unit sekolah baru di lingkungan Yayasan Persekolahan Santo Paulus Ende, milik Serikat Sabda Allah (SVD).

Peta Lokasi

Social Media